Blogsite Ummu Yahya Al Atsariyyah

Dakwah Salafiyah Dakwah Wasathiyah

Benarkah ‘Âidh Al Qarni telah Bertaubat?

Posted by Ummu Yahya Al Atsariyyah pada 28 Oktober 2009

Benarkah ‘Âidh Al Qarni telah Bertaubat

dan Kembali Manhaj Salaf?

Pertanyaan:

Apakah benar bahwa ‘Âidh Al Qarni telah bertaubat dan kembali manhaj salaf?

Jawab:

Syaikh Abu Usamah ‘Abdullâh bin ‘Abdurrahim Al Bukhari pada sore 5 Syawal 1425, bertepatan 17/11/2004 menjawab sebagai berikut:

Demi Allah, pokoknya, tidak saya mengetahui tentang ‘Âidh Al Qarni ini kecuali masih pada keadaannya yang pertama. Kami berharap darinya dan dari selainnya untuk bertaubat dan kembali kepada sunnah. Kalau ia kembali dan bertaubat, maka ia wajib untuk mengumumkan (taubatnya) tersebut dan menyesali perbuatannya, sebagaimana dalam firman Allah jalla wa ‘azza:

إِلاَّ الَّّّذِيْنَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا

“Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran),” (QS Al Baqarah: 160)

Demikian bila bertaubat dari apa yang telah ia lakukan dan dari apa yang telah ia ucapkan. Namun indikasi-indikasi ini tidaklah nampak pada (‘Âidh Al Qarni), bahwa ia telah ruju’ dari berbagai perkara yang ia terjatuh padanya. Buktinya, beberapa bulan lalu, ia diwawancarai oleh koran politik Kuwait, dan ia masih berbicara menjelekkan para ulama, dan ia sendiri berada di garis-garis yang biasa (baca: bukan ekstrem, red) dan mereka itu begini dan begini…, ia mencerca para ulama dan berbicara menjelekkan mereka. Bagaimana ruju’ ini…? Ternyata urat masih berada di betis (maksudnya ia masih seperti itu, red).

Dan juga ada perkara penting, yaitu andaikata nampak bahwa ia telah ruju’ dari perkara-perkara membinasakan yang muncul darinya pada masa-masa itu, berupa menjelekkan para ulama, merendahkan dan mencela mereka, sementara itu ia membela kelompok sururiyah dan mendukung mereka, dan selainnya, maka ia harus ruju’ dari seluruh hal ini.

Berkata Ibnul Qayyim dalam Madârijus Sâlikîn menjelaskan ayat di atas, [Taubat orang fasiq dari sisi keyakinan-keyakinan rusaknya adalah dengan semata-mata mengikuti sunnah. Dan juga itu tidaklah cukup hingga mereka menjelaskan kerusakan bid’ah yang dulu dianutnya. Karena taubat dari segala dosa adalah melakukan kebalikan dari dosa itu. Sebab itulah Allah ta’ala mensyaratkan pada taubat orang-orang yang menyembunyikan apa yang Allah turunkan berupa kejelasan-kejelasan dan petunjuk adalah dengan menjelaskannya. Tatkala dosa mereka adalah menyembunyikannya, maka taubatnya adalah menjelaskannya. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَبِ أُلَئِكَ يَلْعُنُهُمُ اللهُ وَيَلْعُنُهُمُ اللَّعِنُوْنَ . إِلاَّ الَّّّذِيْنَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوْبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ .

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka Itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yyang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah: 159-160)

Dan dosa seorang mubtadi’ (penganut bid’ah) melebihi dosa orang yang menyembunyikan kebenaran, karena ia hanya menyembunyikan kebenaran sedang si mubtadi’ ia menyembunyikan kebenaran sekaligus menyeru kepada hal yang menyelisihinya. Maka setiap mubtadi’ adalah penyembunyi kebenaran dan tidak sebaliknya.1)

Dibangun di atas hal ini, setiap orang yang telah terjatuh dalam membela suatu kebatilan berupa pemikiran-pemikiran rusak dan kelompok-kelompok sesat, dan ia mengetahui yang haq namun menyembunyikannya dan menganut selainnya, maka ia harus menjelaskannya. Tidak boleh ia hanya berkata, “Saya telah ruju’,” bahkan ia harus ruju’ secara terang-terangan dan jelas, dan menjelaskan kebatilan yang dulu ia berada di atasnya, serta membantah kebatilan tersebut secara terang-terangan.

Dan saya tidak mengetahui bahwa ‘Âidh Al Qarni telah ruju’ dari kesalahan-kesalahannya.

Catatan kaki:

1) Demikian ucapan Ibnul Qayyim yang langsung kami (redaksi An Nashihah) nukil secara nash dari kitab beliau Madârijus Sâlikîn 1/395-396 (cet. Darul Kutub). Dan ucapan Syaikh ‘Abdullah dalam jawabannya telah menyebutkan maknanya.

Sumber: Majalah An Nashihah volume 09 tahun 1426 H/2005 halaman 6. Judul asli artikel: Taubat Orang yang Menyimpang.

*) Keterangan tambahan: ‘Âidh Al Qarni adalah seorang tokoh Sururiyah yang melontarkan celaan terhadap para ulama besar di zaman ini. Rincian penyimpangannya bisa dibaca di buku “Madarikun Nazhor” karya Syaikh ‘Abdul Malik Romadhoni Al Jazairi.

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: