Blogsite Ummu Yahya Al Atsariyyah

Dakwah Salafiyah Dakwah Wasathiyah

Bolehkah Bangga Bermanhaj Salaf?

Posted by Ummu Yahya Al Atsariyyah pada 28 Oktober 2009

Bolehkah Bangga Bermanhaj Salaf?

Pertanyaan:

Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka”? Dan hal ini terdapat pada setiap kelompok, tidak terkecuali yang bermanhaj salaf. Apakah salah kalau kami bangga berada di atas manhaj salaf?

Jawaban:

Bangga di atas manhaj salaf adalah perkara yang baik sebab mereka adalah orang-orang yang berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk berpegang teguh dengan jalan mereka.

Di dalam firman-Nya Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا

“Berpegang teguhlah kalian dengan jalan Allah.” (QS Ali Imran: 103)

Dan juga mereka dipuji:

أُولَئِكَ حِزْبُ الله

“Mereka itu adalah kelompok Allah (subhanahu wa ta’ala).” (QS Al Mujadilah: 22)

Adapun yang tercela (dari) berbangga itu tadi disebutkan dalam ayat ini (ialah) orang-orang yang menyelisihi jalan. Karena itulah dalam Al Qur’an dikatakan,

وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Dan jangan kalian menjadi seperti kaum musyrikin.” (QS Ar Rum: 31)

Jadi, diibaratkan jangan sama seperti orang musyrik. Sudah kelihatan ini salahnya. Bagaimana orang musyrik itu?

مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيْعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

“Dari orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka berkelompok-kelompok. Dan setiap kelompok berbangga dengan kelompoknya.” (QS Ar Rum: 32)

Maka yang patut dibanggakan adalah Al Qur’an was Sunnah. Dan tidak patut membanggakan siapapun dari da’i-da’i yang menyeru kepada Al Qur’an was Sunnah. Da’i tersebut kalau menyampaikan dengan Al Qur’an was Sunnah, banggakan apa yang disampaikan. Adapun mengkultuskan orangnya, maka ini adalah perkara yang salah dan sama sekali tidak dibenarkan.

Kita menghormati orang-orang yang berilmu sebab Nabi shallallahu ‘alahi wasallam memerintahkan hal tersebut. Di dalam hadits ‘Ubadah bin Shamith yang diriwiyatkan Imam Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Al Albani (dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir), Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفُ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukan dari kami orang yang tidak menghormati orang yang besar dari kami dan tidak merahmati orang yang kecil dari kami dan tidak mengetahui hak orang yang alim dari kami.”

Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, dalam hadits yang dihasankan oleh Syaikh Al Albani,

الْبَرَكَةُ فِي أَكَابِرِكُمْ

“Berkah itu bersama orang-orang besar (berilmu) kalian.” (Hadits Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ath Thabarani, Ibnu ‘Adi, Al Hâkim, Ibnu Hibbân, Al Baihaqi, Abu Nu’aim, Al Qadhâ’î, As San’ânî, Al Khatîb, dan lain-lain, dishahihkan oleh Syaikh Al Albâni dalam Silsilah Ahâdits Ash Shahîhah no. 1778)

Maka, para ulama dan orang-orang berilmu/para da’i ini mempunyai keutamaan, mereka ini adalah orang-orang yang berjalan berdakwah di jalan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam dan mendapatkan kemuliaan. Tetapi membanggakan mereka atau mengkultuskan satu orang dari mereka ini bukan dari petunjuk Al Qur’an dan As Sunnah sesuai pemahaman para ulama As Salaf. Mereka dihormati, tetapi adapun yang dijadikan patokan adalah apa yang disampaikan, siapa saja, apakah itu saya atau yang lainnya

Kalau saya mengucapkan sesuatu yang tidak dalilnya dari Al Qur’an dan As Sunnah serta tidak dipahami oleh para ulama As Salaf, maka bungkus saja buang ke tong sampah, jangan diambil.

Adapun mengkultuskan, itu sama sekali tidak dianjurkan. Dan akan merugi orang-orang yang mengkultuskan itu sebab itu akan mengarah kepada perbuatan taqlid (ikut-ikutan tanpa dalil) yang terlarang, wal iyyadzubillah.

(Di transkrip dengan perbaikan redaksi oleh Muhammad Syarif Abu Yahya dari rekaman kajian oleh Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi yang terdapat dalam CD-59 Tasjilat Al Atsariyyah)

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: