Blogsite Ummu Yahya Al Atsariyyah

Dakwah Salafiyah Dakwah Wasathiyah

Dakwah Salafiyah Dakwah Keras?

Posted by Ummu Yahya Al Atsariyyah pada 28 Oktober 2009

Dakwah Salafiyah Dakwah Keras?

Prinsip pokok dalam syari’at bahwa seseorang itu hendaknya punya perhatian dan mengetahui bahwa asal dalam berdakwah adalah menyeru manusia untuk kembali kepada agama, memberikan hidayah kepada makhluk supaya kembali kepada agama.

Seharusnya setiap muslim mempunyai semangat agar orang mendapatkan petunjuk. Dan itu adalah ciri Rasulullâh shallallahu ‘alahi wasallam.

Rasulullâh shallallahu ‘alahi wasallam bersabda ketika mengutus ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ke Khaibar,

فَوَ الله َلأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Demi Allah, andaikata Allah memberikan hidayah kepada seseorang disebabkan karena engkau, maka itu lebih baik daripada unta merah (lambang kekayaan orang Arab).” (Hadits shahih, riwayat Bukhâri dalam Al Jihad no. 3009 dan Muslim dalam Fadhailus Shahabah no. 2406)

Maka harus dipahami juga bahwa kita semangat manusia itu mendapat hidayah. Dan ini ciri seorang muslim yang baik, ciri seorang salafi.

Sebagai ukuran dan pijakan di dalam mendakwahi manusia, seorang da’i mempunyai 2 cara syar’i yang ditunjukkan oleh nashnash dari Al Qur’ân dan As Sunnah. Kadang dengan cara at ta’lif wat targhib, pendekatan dan dilembutkan hatinya atau dianjurkan, dan kadang dengan cara al hajr wat tarhib, ditinggalkan dan diperingatkan.

Siapa yang mengatakan bahwa dakwah salafiyah itu hanya mengenal keras saja, maka ini suatu kesalahan. Dan siapa yang mengatakan bahwa dalam dakwah itu hanya dikenal lemah lembut saja, ini juga tidak tepat.

Demikian pula salah, apabila terhadap orang yang patut untuk di-hajr (ditinggalkan), ia tidak meninggalkannya, dan ia menerapkan cara mendekati dan memberikan anjuran. Orang yang seperti ini berkekurangan dan muqashshir.

Sebaliknya, orang yang senantiasa memakai cara kekerasan pada setiap perkara padahal ada pada orang-orang yang seharusnya diberikan pendekatan, maka ini juga adalah orang mutasyaddid (keras berlebihan), tidak sejalan dengan tuntunan Rasulullâh shallallahu ‘alahi wasallam.

Rasulullâh shallallahu ‘alahi wasallam berpesan kepada ‘Ali bin Abi Thalib dan kepada Abu Musâ Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhum ketika keduanya dikirim ke Yaman.

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا وَ بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا

Permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari.” (Hadits Anas bin Mâlik riwayat Bukhâri no. 69, 6125 dan Muslim no. 1734. Dan semakna dengannya hadits Abu Musâ Al Asy’ari riwayat Bukhâri no. 6124 dan Muslim no. 1732-1733)

Ini nasihat Rasulullâh shallallahu ‘alahi wasallam yang terkadang tidak dipahami oleh sebagian orang, sehingga muncul ucapan-ucapan pada sebagian orang, katanya, “Siapa yang tidak bisa keras, mundur saja dari dakwah salafiyah.” Ini ucapan orang yang tidak paham akan bagaimana syari’at itu.

(Di transkrip dengan editing redaksi oleh Muhammad Syarif Abu Yahya dari rekaman dauroh pembahasan Kitab Ushulus Sunnah oleh Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi yang terdapat dalam CD-04 Tasjilat Al Atsariyyah)

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: