Blogsite Ummu Yahya Al Atsariyyah

Dakwah Salafiyah Dakwah Wasathiyah

Jangan Ambil Sebagian Nash Lalu Tinggalkan Nash Lainnya!

Posted by Ummu Yahya Al Atsariyyah pada 28 Oktober 2009

Jangan Ambil Sebagian Nash Lalu Tinggalkan Nash Lainnya!

Perlu diketahui bahwa sikap para imam rahimahumullah di dalam masalah kerasnya kepada ahlul bid’ah, memperingatkan bahaya ahlul bid’ah, itu jangan dipahami sebagian, kemudian meninggalkan sebagian yang lain.

Ini termasuk kaidah pokok. Nash apa saja, jangan memahami sebagian, lalu meninggalkan sebagian yang lain.

Misalnya, para imam melarang untuk mendebat ahlul bid’ah. (Ini jangan dipahami dengan) Diambil sebagian nash, lalu meninggalkan sebagian yang lain.

Ambil sebagian dari nash imam. Contoh Al Laits bin Sa’ad rahimahullah berkata, “Saya sudah melewati umur 80 tahun, tidak pernah saya berdebat dengan seorang pun dari pengekor hawa nafsu.”

Cuma mengambil nash ini, kemudian menyalahkan yang lain. Ini tidak benar. Seharusnya adil. Ini perkataan Al Laits bin Sa’ad disebut Imam Adz Dzahabi di dalam Siyar A’lâmin Nubalâ’, setelah itu beliau katakan, “Ini di zaman Al Laits bin Sa’ad, waktu itu sunnah kuat, ahlus sunnah kuat.”

Juga di zaman Ibnu Sirin rahimahullah, datang mubtadi’. Ibnu Sirin tidak mau mendengar darinya. Ayyûb As Sikhtiyâni pun demikian. Sunnah waktu itu kuat, tidak perlu mendebat ahlul bid’ah, kata beliau.

Tapi di zaman Imam Ahmad setelah itu, Imam Ahmad berdebat, seperti mendebat Bisyr Al Mirisi, Ahmad bin Abi Du’at, dan tokoh-tokoh Al Mu’tazilah, Al Jahmiyah yang mereka ini men-taqrir madzhab jahmiyah, mengatakan Al Qur’ân itu makhluk. Imam Ad Darimi rahimahullah juga mendebat Bisyr Al Mirisi.

Maka harus mengumpulkan seluruh nash, dan ini ciri ahlus sunnah. Di antara ciri ahlus sunnah, ahlus sunnah itu tidak membuat kesimpulan kecuali setelah mengumpulkan seluruh nash dalam permasalahan. Itu ciri umum yang membedakan mereka dengan seluruh firqah ahlul bid’ah. Ini disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam banyak buku beliau.

Maka jangan sampai salafiyyun mengikuti maslak ahlul bid’ah, hanya mengambil sebagian, meninggalkan sebagian yang lain.

Contoh lain, misalnya Sufyan Ats Tsauri rahimahullah, beliau masuk di kota Basrah, akhirnya bertanya tentang Râbi’ ibnu Shubaih. Orang-orang berkata Râbi’ ibnu Shubaih madzhabnya di atas sunnah.

Sufyan Ats Tsauri bertanya, “Siapa teman duduknya Râbi’ ibnu Shubaih ini?”

Orang-orang menjawab, teman duduknya adalah qadariyah, orang-orang qadariyah. Maka kata Sufyan Ats Tsauri, “Kalau begitu, ia ini qadari.”1)

Nash ini diambil oleh sebagian orang, meninggalkan sebagian yang lain.

“Oh… kalau begitu lihat, orang ini duduk dengan hizbi, kalau begitu ia juga hizbi.”

Demikian kadangkala terjadi pada sebagian syabab (pemuda) yang jahil, tidak memahami agama, cuma semangat mengambil suatu nash, lalu terjatuh dalam kesalahan.

Kalau Imam Ahmad rahimahullah, ketika ditanya tentang itu, “Ada orang yang jalan dengan ahlul bid’ah, apa yang saya lakukan? Saya tinggalkan ia?”

Kata Imam Ahmad, “Jangan kamu tinggalkan ia sebelum kamu beri tahu dulu, siapa yang ia temani ini. Kamu beri tahukan, kamu ajari ia, ini mubtadi’.”

Setelah ia paham, jelas, di-iqamatul hujjah (penegakan argumen), ia tidak meninggalkan, baru kamu katakan, ia ini sama dengannya. Baru ditinggalkan.

Contoh lainnya, mengambil kerasnya para imam dalam menghukumi ahlul bid’ah, sampai kalau duduk dengan anjing, babi, dan seterusnya itu lebih bagus daripada duduk dengan ahlul bid’ah…2) Bagus nash-nya diterapkan. Tetapi itu tidak berlaku sebagai kaidah umum.

Lihat nash yang lain dari Imam Ahmad seperti Imam Ahmad berkata—sebagaimana diriwayatkan Al Khallâl dalam As Sunnah—kata Imam Ahmad, “Manusia pada hari ini butuh kepada mudarah.”

Mudarah itu artinya ia bersikap lemah-lembut, kemudian bersabar akan sesuatu yang kurang pantas darinya.

Demikianlah Imam Ahmad yang telah dinukil nashnash yang sangat keras terhadap ahlul bid’ah. Bersamaan dengan itu, beliau berucap seperti itu.

Kemudian, perhatikan kisahnya Imam Ahmad yang beliau pernah didatangi oleh seorang Syi’i (penganut Syi’ah), madzhabnya Syi’ah. Awal kali beliau duduk dengan orang ini, Imam Ahmad bercerita hadits-hadits tentang keutamaan ahlul bait. Sebab ahlus sunnah paham keutamaan ahlul bait, lebih paham daripada orang-orang Syi’ah.

Keluar orang ini, kembali kepada teman-temannya. Mereka bertanya, “Bagaimana kamu mendapati Ahmad bin Hanbal?”

Kata Syi’i ini, “Bagus orangnya. Cinta kepada ahlul bait.”

Kembali lagi setelah itu, terus bolak-balik kepada Imam Ahmad sampai ia kembali di atas sunnah.

Ini semua dasar. Para a’immah itu keras terhadap ahlul bid’ah, tapi bukan artinya mereka tidak suka manusia mendapatkan petunjuk. Maka harus dipahami dan dikompromikan antara nashnash para a’immah. Jangan mengambil sebagian nash, kemudian melempar sebagian yang lain. Atau ada nash saling ditabrakkan. Tidak seperti itu prinsip dan metode ahlus sunnah.

Sekali lagi, ahlus sunnah manusia yang paling mengetahui kebenaran dan manusia yang paling merahmati makhluk. Ini dua ciri yang tidak terlepas dari mereka. Dalam setiap mauqif, mereka betul-betul di atas al haq, mengetahui pijakan yang benar. Dan dengan pijakan itu, manusia akan merasakan rahmatnya ahlus sunnah.

Karena itu, wajar kalau sunnah berkembang, walhamdulillah. Tapi kendala-kendala yang ada memang butuh diperbaiki. Karena itu ini di antara hal-hal yang butuh diluruskan.

Catatan kaki:

1) Al Ibanah 2/453 no. 421.

2) Perkataan Abul Jauza’, “Seandainya tetanggaku dalam satu kampung adalah kera dan babi, lebih aku sukai daripada seorang ahli ahwa’ menjadi tetanggaku.” (Al Ibanah 2/467 no. 466-467)

(Di transkrip dengan editing redaksi oleh Muhammad Syarif Abu Yahya dari rekaman dauroh pembahasan Kitab Ushulus Sunnah oleh Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi yang terdapat dalam CD-04 Tasjilat Al Atsariyyah)

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: