Blogsite Ummu Yahya Al Atsariyyah

Dakwah Salafiyah Dakwah Wasathiyah

Penerapan Hajr (Boikot/Isolasi) terhadap Ahlul Bid’ah

Posted by Ummu Yahya Al Atsariyyah pada 28 Oktober 2009

Penerapan Hajr (Boikot/Isolasi) terhadap Ahlul Bid’ah

Syaikh Rabî’ bin Hâdi Al Madkhali hafizhahullâh berkata, “Jangan kaidah pada kalian itu hanya sekedar hajrhajrhajr saja. Jangan kaidah itu pada kalian. Apakah yang menjadi landasan hajr saja? Yang menjadi landasan itu bagaimana kamu memberi hidayah kepada manusia. Bagaimana kamu memasukkan manusia dalam kebaikan, itu dasar. Kalau kamu hajr seluruh manusia, siapa yang masuk dalam sunnah?”

Ada sebagian orang menyangka seakan-akan orang masuk dakwah salafiyah itu langsung berubah wujud secara tiba-tiba langsung salafi. Kebanyakan orang sekarang tidak berada di atas dakwah yang benar. Kalau mereka dibiarkan seperti itu, siapa yang mengajari mereka, kalau bukan ahlus sunnah yang rahmat kepada mereka?

Maka ini nasihat dari Syaikh Rabî’ hafizhahullâh yang dikenal bagaimana beliau terhadap orang-orang yang menyimpang dari dakwah salafiyah, tetapi tetap nasihat beliau sangat indah sekali. Dan beliau oleh sebagian syabab (pemuda) dikumpulkan nasihat-nasihat beliau untuk berbagai negara, perselisihan yang terjadi di berbagai negara, nasihatnya betul-betul indah. Menyuruh kepada persatuan, kemudian untuk bertaqwa kepada Allah, saling sibuk dengan menuntut ilmu, indah sekali nasihatnya.

Cuma, sebagian orang mengambil dari Syaikh Rabî’ hafizhahullâh sifat kerasnya dalam satu sisi, lalu meninggalkan hikmah beliau di sisi yang lain. Dan ini adalah suatu yang tidak dibenarkan.

Yang jelas itu kesimpulan dari nasihat beliau, dan Syaikh Rabi’ hafizhahullâh memberikan dua kisah bagaimana orang punya hikmah.

Kata beliau, di India, mereka itu hampir seluruhnya adalah orang-orang khurafiyin, quburiyin. Dan ma’ruf di India, orang-orang pengikut khurafat, penyembah kubur, quburiyin, karena sama seperti di Indonesia, mirip kebiasaan Hindu yang ketika masuk Islam masih terpengaruh ajaran terdahulu. Kuburan masih tetap diagungkan, apalagi India merupakan pusatnya.

Maka datanglah ahlul hadits ke negeri India ini dengan ilmu dan hikmah. Mereka pun mendakwahi ribuan manusia dengan hikmah dan ilmu mereka. Ada empat dari murid besarnya Syaikh Nadhir Hasan, mereka ini diterima oleh orang-orang India dari atas sampai bawah, dari kepala sampai ke belakangnya, semuanya diterima. Maksudnya, diterima secara keseluruhan.

Salah satu dari murid Syaikh Nadhir Hasan pernah mendapatkan cobaan. Datang mubtadi’ memukulnya sampai disangka ia sudah mati. Setelah dalam keadaan seperti itu, datanglah pihak keamanan. Lalu orang yang memukulnya ini—mujrim (penjahat) ini, mubtadi’ ini—akhirnya ditangkap. Setelah itu dimasukkan ke penjara.

Maka ketika murid Syaikh Nadhir Hasan ini sadar, awal kali ia tanya, “Mana tadi yang pukul saya? Ke mana ia pergi?”

Orang-orang berkata, “Dia dimasukkan penjara,”

Katanya, “Tidak boleh dipenjara! Saya sudah memaafkan dia. Jangan dipenjara!”

Kata orang-orang, “Khalas, ia sudah dipenjara.”

Sudah masuk penjara dan tidak bisa dilepaskan karena sudah berkaitan dengan pemerintah walaupun sudah dimaafkan. Akhirnya apa yang dilakukan? Orang ini masuk penjara, anak-anaknya tentu membutuhkan infaq, dan seterusnya. Murid Syaikh Nadhir Hasan ini—yang dipukul ini tadi—memberikan nafkah kepada anak-anaknya.

Subhanallah, setelah ia keluar dari penjara, ia termasuk orang-orang yang masuk ke dalam dakwah salafiyah. Ini hikmah yang kuat, semangat manusia mendapatkan hidayah.

Syaikh Rabî’ cerita lagi kisah lain. Di Sudan, Abu Mahjub adalah orang yang yang paling pertama menyebarkan dakwah salafiyah di sana. Orang-orang memukulinya sampai ia pun ditarik, diseret, dilempar ke luar masjid. Setelah sadar dari pingsannya, ia tersenyum, tertawa, tidak juga ada rasa ingin membalas.

Akhirnya dengan akhlak dia yang baik ini, orang-orang pun masuk ke dalam dakwah salafiyah, sampai syaikh-syaikhnya, tokoh-tokoh tarekatnya, ikut juga masuk dalam dakwah salafiyah. Subhanallah, berkah.

Kata Syaikh Rabî’, “Yang saya inginkan, saya tidak mengingnkan kalian sampai ke derajat seperti ini, sampai kalian dipukul misalnya, dan seterusnya. Yang saya inginkan dari kalian, wahai ikhwah, kalian itu hendaknya punya hikmah, punya lemah lembut, ada kesabaran, dan punya maksud yang baik. Maksud yang baik itu memberi hidayah kepada manusia. Bârakallahu fîkum,” Wallahi ya ikhwan, harus dengan akhlak yang mulia, akhlak yang hakim dan ini yang menyebabkan manusia menerima dakwah kalian. Kalau kalian tidak punya kecuali kasar dan keras saja,

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَ نفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Andaikata engkau wahai Nabi Muhammad kasar dan keras hati niscaya manusia akan lari dari kamu.” (QS Ali Imran: 159)

Ini Rasulullâh shallallâhu ‘alahi wasallam. Allah subhanahu wa ta’âlâ berfirman kepadanya demikian. Maka ikhwani fillah bârakallahu fîkum. Sebagian dari ikhwah kita punya sifat keras berlebihan, mengeluarkan orang dari salafiyah, tidak ada yang pernah masuk. Ada orang-orang yang seperti ini. Hendaknya mereka bertaubat kepada Allah dan memperbaiki akhlaknya. Kemudian menjadi sebab hidayah kepada manusia dan menjadi da’i di jalan Allah subhanahu wa ta’âlâ. Bârakallahu fîkum. Hendaknya kalian memegang uslub yang seperti ini. Jangan kaidah kalian, hanya hajrhajrhajr saja. Hajr itu disyari’atkan itu disyari’atkan kalau bermanfaat. Kamu kalau di zamannya Imam Ahmad bin Hanbal, silahkan kamu meng-hajr.”

(Imam Ahmad setelah berhasil beliau kokoh di atas sunnah, sunnah yang nampak)

“Kamu kalau di zamannya Ahmad bin Hanbal, hajr sudah. Tapi kamu ini di zaman siapa? Bârakallahu fîkum. Harus punya perasaan lemah lembut dan kesabaran. Bârakallahu fîkum. Mendekatkan manusia kepada kebaikan, memasukkan manusia di dalamnya.”

Selesai nasihat beliau dari satu kaset rekaman ketika ditanya dengan pertanyaan ini (Pada bulan Ramadhan 1423 H). Ini sebenarnya akhlak dari para masyaikh kita.

Syaikh Muqbil rahimahullâh juga tampak pembawaan beliau yang ketika sebagian muridnya kelihatan ada sebagian kesalahan, hikmahnya beliau mendekatkan, sehingga mereka mengetahui bahwa dirinya salah dan kokoh benar di atas sunnah. Sebab, kalau setiap kali ada orang tersalah, kemudian langsung dijatuhkan, maka tidak ada lagi yang tersisa. Tapi ketika masih bisa diperbaiki, maka diperbaiki. Kalau memang tidak ada yang pantas baginya kecuali di-hajr, maka di-hajr. Namun dengan ketentuan dan syarat-syarat yang telah disebutkan.

Ini semua dari pokok-pokok yang berkaitan dengan masalah bid’ah, bahaya dari bid’ah, dan prinsip-prinsip ahlus sunnah di dalam masalah ini. Dan saya memohon kepada Allah subhanahu wa ta’âlâ mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.

(Di transkrip dengan editing redaksi oleh Muhammad Syarif Abu Yahya dari rekaman dauroh pembahasan Kitab Ushulus Sunnah oleh Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi yang terdapat dalam CD-04 Tasjilat Al Atsariyyah)

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: