Blogsite Ummu Yahya Al Atsariyyah

Dakwah Salafiyah Dakwah Wasathiyah

Nasihat untuk Penuntut Ilmu via Internet

Posted by Ummu Yahya Al Atsariyyah pada 28 Oktober 2009

Nasihat untuk Penuntut Ilmu via Internet

Oleh: Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi

Internet itu ada manfaatnya bagi siapa yang masuk di dalamnya dan mempunyai ketaqwaan dan ia menginginkan kebaikan. Punya ketaqwaan dan takut kepada Allah subhanahu wa taala dan menginginkan kebaikan, itu yang boleh masuk untuk melihat apa-apa yang bermanfaat di internet.

Dan Antum (Anda sekalian) mengetahui bahwa kerusakan yang ada pada internet lebih banyak daripada kebaikannya. Sampai orang-orang yang menulis pun dengan nama Islam, tulisan yang mengarah kepada kerusakan lebih banyak daripada tulisan yang mengarah kepada kebaikan.

Dan di internet ada nama-nama yang nama-nama itu tidak diketahui siapa nama-nama itu, orang-orang yang menulis tanpa tanggung jawab. Atau sebagian orang yang menulis mengatasnamakan kelompok tertentu misalnya bahkan ada sebagian yang lancang mengatasnamakan dakwah salafiyah dan mencemarkan sebenarnya nama dakwah salafiyah. Sebab tidak seluruh da’i salafi setuju dengan suatu mauqif (ketetapan/sikap/pendirian

) tertentu dan keadaan tertentu. Ini yang harus dimaklumi dan diketahui maka (supaya) tidak membahayakannya.

 

Maka, yang saya nasihatkan kepada ikhwah (saudara-saudara) sekalian, kalau memang ingin ilmu yang bermanfaat maka diambil dari sumber-sumber yang benarnya. Dan belajar dari internet itu tidak cukup. Walaupun ada manfaatnya seperti yang saya katakan tadi, seseorang yang belajar darinya, kadang ia masuk membaca sesuatu yang tidak penting ia membacanya, tidak ada manfaatnya ia mengetahui hal yang seperti itu.

Kadang ada sebagian ikhwah paham bahasa Arab, ia baca situs-situs Arab misalnya. Di situs-situs Arab ada sebagian masalah dakwah yang terjadi di tanah Arab sana, tidak ada di Indonesia, masalah-masalah ini dibawa ke Indonesia ini termasuk kesalahan. Kenapa? Sebab ini namanya membuat permasalahan, yang asalnya kita tidak ada masalah, masalah itu dibawa ke tengah kita.

Maka yang seperti ini hendaknya bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak setiap yang diketahui itu harus diucapkan, harus disampaikan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik, ليس كل مايعلم يقال “Tidak setiap apa yang diketahui itu dikatakan/diucapkan.”

(Di transkrip oleh Muhammad Syarif Abu Yahya, dari rekaman ta’lim di Jakarta, 18 Syawwal H/18 Oktober 2008 yang terdapat dalam CD-50 Tasjilat Al Atsariyyah)

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: