Blogsite Ummu Yahya Al Atsariyyah

Dakwah Salafiyah Dakwah Wasathiyah

Nasihat Berharga dari Pengalaman Hidup Kaum Salaf

Posted by Ummu Yahya Al Atsariyyah pada 29 Oktober 2009

Nasihat Berharga dari Pengalaman Hidup Kaum Salaf

Diriwayatkan dari Syaqiq Al Bajali rahimahullâh, bahwa beliau bertanya
kepada muridnya Hatim, “Engkau telah menemaniku dalam kurung waktu
(yang lama). Lalu apakah yang engkau telah pelajari dari ku?”

Hatim rahimahullâh menjawab: “(Saya telah mempelajari) delapan perkara:

Pertama: Saya melihat kepada makhluk, ternyata setiap orang memiliki
kecintaan. Namun jika ia telah mencapai kuburnya maka kecintaannya
akan berpisah darinya. Maka saya pun menjadikan (amalan-amalan)
kebaikanku sebagai kecintaanku agar ia senantiasa bersamaku di alam kubur.

Kedua: Saya melihat kepada Firman Allah Ta’âlâ, “(Dan orang-orang
yang) menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” [QS An Nâzi’ât: 40],
maka saya pun bersungguh-sungguh menolak hawa nafsu dari diriku
sehingga senantiasa tetap di atas ketaatan kepada Allah Ta’âlâ.

Ketiga: Saya melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga
baginya, pasti ia akan senantiasa menjaganya. Kemudian saya
memperhatikan Firman (Allah) subhânahu wa ta’âlâ, “Apa yang di sisimu
akan sirna, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” [QS An Nahl: 96], maka setiap kali saya memiliki sesuatu yang berharga, pasti saya
hadapkan kepada-Nya agar ia kekal untukku di sisi-Nya.

Keempat: Saya melihat manusia kembali kepada harta, kedudukan dan
kehormatan, sedangkan itu tidak (berarti) sedikit pun. Kemudian saya
mencermati Firman (Allah) Ta’âlâ, “Sesungguhnya orang yang paling
mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa
di antara kalian.” [QS Al Hujarât: 13] maka saya pun beramal dengan
ketakwaan agar saya menjadi mulia di sisi-Nya.

Kelima: Saya melihat manusia saling mendengki (hasad). Lalu saya
memperhatikan Firman (Allah) Ta’âlâ, “Kami telah menentukan antara
mereka penghidupan mereka.” [QS Az Zukhruf: 32], maka saya pun
meninggalkan hasad.

Keenam: Saya melihat manusia saling bermusuhan. Kemudian saya
mencermati Firman (Allah) Ta’âlâ, “Sesungguhnya syaithân itu adalah
musuh bagi kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh.” [QS Fâthir: 6], maka
saya pun meninggalkan permusuhan mereka dan saya jadikan syaithân
sebagai musuh satu-satunya.

Ketujuh: Saya melihat mereka menghinakan diri-diri mereka dalam
mencari rezki. Lalu saya mencermati Firman (Allah) Ta’âlâ, “Dan tidak
ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rezekinya.” [QS Hûd: 6], maka saya pun menyibukkan diriku dengan apa-apa
yang merupakan hak Allah terhadapku dan saya tinggalkan apa yang
untukku di sisi-Nya.

Kedelapan: Saya melihat mereka bergantung (tawakkal) pada pergangan,
usaha dan kesehatan badan, maka saya pun bertawakkal hanya kepada Allah.

[Bahjatul Majâlis Wa Anîsul Muqîm Wal Musâfir Juz II hal 12-13]

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: